Long Distance | CREAMENO

Pages

Long Distance

Sebagai pejuang LDR pada jamannya, gue tau banget genks susahnya LDR ituuuh, bahkan jika ada antrian penjual pintu Doraemon, mungkin gue sudah antri dari tiga malam sebelumnya biar dapat urutan awal πŸ˜‚ So, ketika junior gue cerita kalau dia LDR dan pusing karena sudah 'terpisah' lama, hubungan hambar, komunikasi renggang, sikit-sikit tengkar, mana Corona nggak kelar-kelar -- gue pun cuma bisa kasih tips and trick based on pengalaman gue agar mereka bertahan πŸ˜†

Sekalian deh gue tulis di blog, biar nanti bila ada yang tanya, gue tinggal share link ini untuk dibaca πŸ™ˆ By the way, salah satu hal terberat saat LDR menurut gue komunikasi, karena nggak bisa face to face, jadi to keep the relationship, kita perlu jaga flow komunikasi agar fun. Naaah, masalahnya (gue yakin pasti ada yang relate) at some point, pasti pernah dong kita merasa ingin keep in touch by text, jadi kita kirim pesan terus dengan harapan dibalas. Giliran dibalas lama, kita KEZAL 🀣

Gue pun begitu diawal, entah kenapa, meski kerja, gue tetap kirim pesan untuk si kesayangan, dan itu nggak cuma satu dua kali melainkan banyaaks. Yang mana kalau nggak dibalas, gue kirim again again and again hingga dia balas πŸ˜‚ Wk. Gue pun pernah sampai tahap merasa cinta gue bertepuk sebelah tangan. Berpikir kayaknya gue doang yang cinta, dianya nggak --- Dan pertanyaan, "Do you really love me?" sering gue gaungkan πŸ™ˆ *gubrak* hahaha. Untung si kesayangan nggak menyerah or memilih ghosting guah, sebab kalau diingat-ingat, waktu itu gue agak menyebalkan 🀣

🐰🐰🐰

Eniho, salah satu hal yang mengubah gue pada akhirnya dan berhenti banyak tanya via text adalah saat gue mengobrol dengan kenalan gue yang lebih senior dalam dunia LDR. Dia bilang, kirim text dan merasa rindu itu normal, buuut instead of kasih pertanyaan ini itu yang kita tau tujuannya for showing affection, better kasih pernyataan, dengan begitu, kita jadi nggak berharap jawaban dan lebih chill dalam menjalani hubungan. Which is ketika gue aplikasikan pada relationship gue dan si kesayangan ternyata berhasil membuat flow hubungan kami jauuuuh lebih fun 😍

Apa yang dimaksud pernyataan? Well, dari pengalaman gue, daripada tanya lagi apa (yang jelas-jelas jawabannya kerja) atau sudah makan belum (macam anak kecil saja ditanya beginian), better just text 'em with, "Hon, I know today will be a long day, but I know you'll always do your best, so I wish everything goes well. You know I love you, rite~? Text me when you have a time." atau simple text like, "Hon, I know you are busy, just remember, I love you and cheer up~!" 🀣 hahahaha. I bet, it sound cheesy but yes, si kesayangan bilang, dapat text seperti itu membuat dia semangat πŸ™ˆ

Ohya, ini nggak hanya berlaku untuk pejuang LDR, namun siapapun yang memang hobi exchange text dengan pasangan. Biasa usia muda lebih suka exchange text sik, semakin tua semakin jarang. Gue pun dulu meski nggak hobi text, tapi saat sama si kesayangan, gue termasuk bucin kelas berat (mana nggak bisa call jam kerja pula) πŸ˜‚ Dan text berbentuk pernyataan seperti ini bisa kita kirim beberapa kali a day, tanpa mengganggu or membebani pasangan kita. Sebab kitanya nggak butuh jawaban, on the other side, pasangan kita senang ketika membaca text kita 😍

Momen-momen seperti ini juga sering gue gunakan untuk kasih pesan as a thank you note, karena kadang diwaktu ketemu, kita lupa untuk being grateful atas kehadiran pasangan kita and take 'em for granted. Jadi gue gunakan momen saat dia kerja dengan kirim pesan panjang, menyuarakan isi hati gue, sekaligus biar dia ingat gue yang selalu sayang dia 🀣 Wk. Kalau kata senior gue, sekalian kasih 'pagar' biar nggak lirak-lirik wanita lain di perusahaan (so glad perusahaan si kesayangan isi laki semua), karena tau ada yang selalu menanti dia (di rumah atau di kejauhan) πŸ˜†

🐰🐰🐰

Next, buat goal untuk ketemu bisa dua bulan lagi, tiga bulan lagi, setahun lagi, and so on, menurut gue ini bisa membuat kita keep going karena kita punya purpose jelas dalam jalankan hubungan 😁 Dan seenggaknya, ada yang bisa kita nantikan, jadi lebih semangat menikmati hari-hari kita 😝 Buat gue pribadi, cara ini bekerja dengan baik, genks~! Sebab membuat gue jadi antisipasi dengan pertemuan berikutnya. Tinggal dikondisikan sesuai budget dan lokasi pertemuan πŸ₯³

Kala itu, gue sama si kesayangan ekstrim, sometimes ketemu di Hong Kong (pernah gue ceritakan), kadang nggak ada 24 jam πŸ˜‚ Beberapa kali kami pernah tiba di Hong Kong Minggu pagi terus balik negara masing-masing Minggu malam πŸ™ˆ Keluar uang banyak tapi worth every penny karena bisa ketemu dia hahaha. Lumayan~lah makan bareng dan yalan-yalan bareng hunting dessert enak 🀣 Dan gue pun sering ambil transit Korea sebelum balik Indonesia meski hanya 48 jam ~

Pokoknya gue dan si kesayangan berusaha minimal satu bulan sekali ketemuan (paling parah 2-3 bulan karena sibuk), dan kami berdua tau setiap pertemuan butuh biaya yang nggak murah, kami jadi harus semangat kerja. Dan sebisa mungkin jangan nggak contact at all kemudian bilang, "Aduh sibuk nggak ada waktu." ke pasangan. Sebab in my opinion, jika kita cinta pasangan kita, maka kita akan berusaha luangkan waktu kita -- Itu pula yang kami coba perjuangkan. Even sesibuk-sibuknya kami berdua, kami tetap keep in touch setiap ada waktu luang, minimal waktu malam 😍

🐰🐰🐰

Then, topic, yep, kehabisan topik ini salah satu yang katanya bisa buat hubungan jadi hambar plus pelan-pelan berjarak -- Soal ini, gue bisa paham karena lihat dengan mata kepala sendiri beberapa sohibuls gue yang gagal jalani LDR dengan para mantannya. While in my case, kayaknya gue nggak sampai kehabisan topik karena gue memang hobi cerita hahahaha. Tau sendiri blog gue pun bisa update setiap hari karena selalu ada hal seru untuk dibahas 🀣 And yes, topik bahasan gue dan si kesayangan itu kebanyakan receh bin random nggak jelas πŸ˜† Wk.

Kami justru jarang bahas hal serius macam pekerjaan, politik (duh), this and that. Pokoknya sebisa mungkin cari topik ringan agar pikiran relaks --- Dan gue sama si kesayangan avoid topik basa-basi macam sudah makan belum, hari ini bagaimana pekerjaan karena jawaban yang dikasih template alias sama πŸ˜‚ Selain itu, kami avoid mengeluh by phone, karena kami tau itu hanya akan tambah beban pikiran pasangan, jadi mengeluhnya nanti saat ketemuan biar gampang puk-puknya 😝

Not to forget, pria itu makhluk visual, jadi LDR bukan hal yang mudah untuk mereka. Deep down inside, pasti mereka ingin selalu lihat kita dari dekat πŸ˜† Dan memang wanita biasa lebih kuat LDR dari pria, makanya gue usaha extra untuk membuat hubungan kami nyaman dengan nggak terlalu kasih banyak beban pikiran (-sebab beban nggak ketemu sudah berat untuk si kesayangan) agar si kesayangan selalu merasa dekat guah πŸ™ˆ And yes, ini pengalaman gue dalam menjaga LDR with si kesayangan yang untungnya berhasil dijalankan hingga survive seperti sekarang 😁🧑

Teman lain maybe punya pengalaman berbeda, bisa share di bawah πŸ₯³

40 comments:

  1. Aku nunggu komen dari yg lain aja deh.. wkwk 🀣🀣 belomm pernah LDR soalnya... ehh ya pernah sih tapi dlu pas ambil diploma di Semarang. Itu pun LDR sama orang2 rumah..

    tiap malam pasti telponan.. Kangennya terobati?? 'SEDIKIT'... tetep aja HomeSick, apalagi pas di awal2, Libur kuliah 3 hari aja yg dicari tiket Bis buat pulang, padahal waktunya abis buat dipake perjalanan.. tapi Worth karena pulang2 berasa pesta karena dimasakin ini-itu sama Emakk..
    *perbaikan Gizi istilahnnya 🀣

    Ehh tapi aku pernah dnger temen yg cerita soal asmaranya yg juga LDR.. dan itu kasusnya pertama kali buat si Temenku dan baru berjalan 4 bulan LDR kalau nggk salah..

    Temenku ini cerita smpe bilang kalau Cowonya udah nggk kaya yg biasanya.. selalu lama buat respon, alhasil bertengkar melulu.. aku yang dnger cerita dia nggk bisa respon banyak selain bilang "mungkin dia sibuk, atau mungkin dia capek sama kerjaannya, dan blabla.."

    Seandainya dulu, udah kenal Mba Eno dan udah baca tulisann ini. Mungkin bakalan aku forward ke dia dan mungkin smpe skrang mereka masih bersama atau malah sudah menikah... hehe πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. LDR sama orang tua yang hidup dengan kita dari kita baru brojol ke dunia memang berat mas awal-awalnya, bawaannya mau pulang tuh kencang 🀣 Wk. But your efforts terbayarkan dengan makanan-makanan enak di rumah, yah 😍

      Nah itu sering terjadi memang mas Bayu, saya pun sudah beberapa kali dengar pengalaman sejenis dari orang sekitar saya. Hubungan bisa berjarak betulan bila dihadapkan dengan LDR namun nggak tau bagaimana mengatasinya πŸ˜• Menurut saya ketika kita putuskan untuk LDR, butuh komitmen dan efforts lebih untuk jaga hubungan kita agar tetap berjalan lancar πŸ™ˆ hehehehe.

      Semangat untuk teman mas Bayuuuu πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
    2. Aku juga ikutan memantau seperti Bayu karena aku belum pernah LDR 🀣. Ehh, tapi kalau mengalami nggak ketemuan sekitar 1-2 minggu gitu, bisa dibilang LDR nggak, Kak? πŸ€”. Tapi masih di kota yang sama, hanya jarang ketemuan aja. Sebab di kepalaku, LDR itu identiknya dengan adanya jarak jauh yang melintang di antara hubungan yang berjalan, jadi aku bingung kalau masih dalam 1 kota tapi jarang ketemuan, apakah bisa dikategorikan ke dalam LDR atau nggak πŸ˜‚

      Delete
    3. Ikutan nimbrung mas Bayu, LDR sama orang rumah, pas magang kerjaπŸ˜‚

      Delete
    4. Mungkin bisa dianggap long distance ugha, Li πŸ™ˆ

      Secara ketemunya jarang meski satu kota πŸ˜‚ Lha kakak sama si kesayangan sekarang meski serumah masih terasa long distance karena ketemu saat makan siang dan malam doang πŸ€ͺ hahahaha *kemudian dijitak si kesayangan* 🀣

      Delete
    5. Yang dirindukan pasti makanan Ibu yah, mba Endah πŸ˜†πŸ€

      Delete
    6. Wkwkwkwk kalau itu nggak bisa dibilang Long Distance!! 🀣🀣🀣. Kalau Kak Eno sama Paul Kim baru bisa dibilang Long Distance 🀣🀣🀣
      *Ikutan digetok Si Kesayangan*

      Delete
    7. Sama Paul Kim sik jauh di mata dekat di hati Li, nggak berasa LDR 🀣

      Delete
  2. Pernah LDR ama kakanda, cuma 10 hari rasanya sampai 10 bulan. MEWEK NANGIS BOMBAY huhuu gak kuat akutuu. Untung habis itu gak ada urusan kerjaan lain yang mengharuskan LDR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ingin rasanya ikut pergi sekalian daripada ditinggal yah, mba Vina 🀣

      Delete
  3. Tulisan ttg LDR (Lelah Disiksa Rindu) pernah ditulis mbak eno, postingan lama sekali...wkwkkwk

    Yaa aku pernah jadi pejuang LDR. Walaupun jaraknya hanya sekitar 403km, kemudian berubah jadi 311km. Jaraknya masih dekat dibandingkan jarak LDR-nya mbak eno...wkwkkwkk
    Ngirim pesan banyak dalam waktu yg berdekatan hanya utk dibalas pesannya itu bagiku sangat menyebalkan. Sebaiknya jangan sering² dilakukan...hahahaha 🀣🀣

    Kalimat yg paling ditunggu sih biasanya kalimat² janjian untuk ketemu. Lihatin tanggal, dan ngitung waktu libur..hahahaa
    "Aku balik dulu yaa, nanti aku kabari kalau sudah sampai rumah" ini contoh kalimat yg biasa dipakai pejuang LDR...wkwkkwk

    Saranku, kalau kalian seorang pencemburu, sebaiknya jangan kepikiran untuk LDR. Daripada nanti kalian terlalu khawatir dan benar-benar tersiksa oleh jarak...hahahaha 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bah, saya justru nggak ingat hahaha, post yang mana sudah lupak 🀣 Daebak mas Vay justru punya ingatan lebih kuat dari saya hahahaha. Thank you, mas 😍

      403 km itu kira-kira jarak dari mana ke mana, yah? 😡 Jakarta - Semarang, mas? Well, menurut saya itu tetap jauh sik, sebab nggak bisa ketemu setiap hari, kan. Hahahaha. But yes, kalau bisa jangan kirim text terus-menerus, nanti pasangan tambah guilty nggak bisa balas cepat, jika guilty bertumpuk jatuhnya KEZAL 🀣

      Wk. Betul betul betuuul, kalimat itu sering saya gunakan juga. Meski bedanya, "Aku balik dulu, nanti aku chat saat pesawat sudah landing di Indonesia / Korea." terus yang sampai duluan langsung check flightradar untuk lihat pesawat pasangan ada di mana posisinya πŸ˜‚ Wk. And setuju, kalau nggak biasa better jangan dipaksakan sik, bisa bahaya untuk jiwa, raga, pikiran, dan mental 🀧✌

      Thanks for sharing, mas Vay πŸ₯³

      Delete
    2. dulu pernah komen tentang LDR..hahhahaha
      Selain itu, jadi hafal setiap jadwal kereta. Baik kereta yang berangkat, atau kereta yang datang. Tinggal disesuaikan saja mau tiba yang jam berapa..wkwkwk

      Delete
    3. Jadi penasaran post yang mana, hahahaha, saya coba cari pakai keywords LDR nggak dapat soalnya 🀣 Apa mungkin cuma post selingan (?) *balik bertanya* πŸ™ˆ

      Waktu di kereta pasti dugeun-dugeun, especially jika hampir sampai stasiun, biasa pasangan mas Vay tunggu di stasiun atau ketemu di suatu tempat? 😍

      Delete
  4. Saran ex pejuang LDR terpisah benua, sebelum memulainya :

    Pahami karakter sendiri
    Pahami karakter pasangan
    Tujuan hubungan yang jelas
    Jangan terlalu lama πŸ€£πŸ˜‚ (apalagi suami istri)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian jangan terlalu lama itu poin paling pentingnya, mba Phebs. Ya ampun kalau kelamaan apalagi jika nggak tau kapan endingnya, bisa mumet kepala 🀣 Wk.

      Thanks for sharing your experience, mba 😍

      Delete
  5. Pernah LDRan waktu awal pacaran sama mantan pacar yang sekarang jadi misua. Dari awal sampai mau nikah baru ngga LDR. Lumayan 3 tahun. Hihi

    Setelah nikah ya masih sering LDRan, biasanya 3 mingguan gitu. Untungnya setelah pandemi, udah jarang dinas, kalaupun dinas cuma hitungan hari ngga sampai seminggu.

    LDR itu lumayan berat di komunikasi sih, bener kata mba Eno masalah nunggu balasan lama ini jadi poin utama berantem. Yang kebanyakan gondok itu malah si mantan pacar. Saya ini orangnya cenderung cuek banget, terlalu lama enjoy sendirian mungkin. Lol

    Saya juga sampe be-te sendiri, soalnya ngga terlalu suka dikit-dikit balas text, apalagi kalau lagi di kantor. Coba dulu tahu cara ini, mungkin saya bakal lebih rajin kirim kata-kata bucin biar dianya ngga gampang gondok gara-gara lama bales atau lupa bales. Wkwk

    Anehnya meski kami sering berantem dulu, jadinya malah nikah dan beranak pinak sekarang. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan lama 3 tahun, mba 😍 COOL~!

      Berarti mba Syarifani karakternya kayak si kesayangan, suka lama balas pesan 🀣 Tapi memang dikirim pesan berkali-kali tuh bisa buat penerima feels annoyed yah, untung mba Syarifani sabar meski pasangan gondok jadinya πŸ˜‚ Eniho, kirim kata bucin biar pasangan tenang dan nggak kepikiran boleh juga 😝 Wk.

      Thanks for sharing your beautiful stories mba Syarifani, semoga langgeng terus sama pasangan hingga akhir hayat (hubungan solid plus kompak) 😍

      Delete
    2. Aamiin..makasih mba Eno, semoga mba Eno sama pasangan selalu banyak sweetnya ketimbang bitternya. Hihi

      Ngga nyangka kami bisa 3 tahun bertahan LDR, komunikasi sebagian besar lewat bbm sama telpon, sampe bela-belain ganti provider yang sama.
      Eh, tahunya sekarang suami yang malah ganti ke provider saya. Sekarang enak ya mba, ada Line, WA, Kakao. Dulu mau pakai ketemu virtual kudu pakai skype. XD

      Ketemunya jarang 6 bulan sekali mungkin, padahal cuma Jkt-Sby. Mungkin Sang Pencipta sengaja memisahan kami supaya sama-sama menjaga dari dosa masa pacaran. XD

      Delete
    3. Amiiiiin, ya Tuhan semoga yaaah mba kita dijauhkan dari bitter-nya hidup, well, meski hidup tentu nggak ada yang sempurna, minimal bitter-nya yang normal-normal saja dan masih bisa kita hadapi dengan lapang dada πŸ˜† hehehehe.

      Duh nggak kebayang LDR jaman orang tua kita, mana nggak ada handphone, cuma bergantung sama surat, itupun kalau sampai suratnya secara kadang kesasar entah ke mana 🀣 Wk. What a memory, asiknya bisa dikenang 😍

      Delete
  6. Menarik bangeeet yang kita ga perlu bertanya namun memberikan pernyataan. Aku belum pernah ngerasain LDR saat pacaran, namun sempat LDR saat Koko harus isoman. Tiga minggu cuma bertemu via video call, berasa jugaaa ga nyamannyaa. Karena selama ini selalu ketemu langsung. Kebayang betapa Mba Eno dan Kesayangan hebat bisa melaluinya lintas negara lohhh.. Dan kalian selalu menyempatkan diri untuk bertemu.

    Setuju sama mba, alasan sibuk itu bagi aku terlalu klise. Tinggal mau atau tidak untuk meluangkan waktu untuk partner. Kadang pun ga perlu LDR, misalnya sesama berada di daerah yang sama, bisa juga alasan sibuk untuk tidak bertemu. Padahal jika mau juga bisa untuk meluangkan waktu.

    Pertanyaan "do you really love me?" itu bisa jadi pertanyaan yang jawabannya ga kelar-kelar. Di jawab iya tapi bisa terus ditanyain. Ga di jawab karena sebetulnya jawabannya pernah di kasih tahu, malah bisa jadi berantem karena dicuekin. Terus begitu saja yaa ga ada habisnyaaa 🀣 tapi aku pun dulu pernah melakukan itu. Kadang sampai sekarang tahap menikah, aku masih bertanya itu sampai Koko bosen sendiri. Dia selalu bilang dari dulu sampai nikah pertanyaannya sama dan jawabannya kan juga samaa. Malah pernah aku tanya "nyesel ga married sama aku" dia cuma geleng-geleng, karena bisa-bisanya aku kepikiran "kata nyesel" πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti nggak nyaman banget yah mba Devina apalagi mba Devina belum pernah LDR, jadi ketika dipaksa keadaan untuk LDR, terus nggak punya chance ketemu akibat Corona, rasanya jadi semakin resah. Sometimes ketika pasangan sakit, kita inginnya ada di sisi mereka untuk rawat dan urus mereka, terus saat nggak bisa, ada rasa nggak berguna deep down inside pastinya *curhat* I feel you, mbaaaaa 🀧

      Betul mba, klise abiz, minimal bisa kontak meski sibuk, kalau sampai nggak kontak at all, duuuh nggak yakin itu cinta atau bukan 🀣 Wk. Eniho, mba Devina tau saja pertanyaan mode jebakan Batman ituuuh hahahaha. Asli deh, nggak ada jawaban tepat dari pertanyaan tersebut, mau jawab A atau B tetap salah sepertinya πŸ˜†πŸ˜‚

      Delete
  7. wadaww hehehe
    aku pernah LDR dan nggak ada resep juga
    kayaknya "too jadul" juga model LDR-annya, palingan chat biasa, telpon, dan jarang juga kirim pesan pernyataan kayak kasih semangat :D
    agak berat juga LDR, kadang aku rajin komunikasi ehh dianya enggak.
    dua pihak kudu sejalan, sehati biar terus langgeng sepertinya, meskipun putus juga akhirnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indeed, berat dan butuh komitmen lumayan besar, mba Ainun. Makanya kalau mau LDR, seperti kata mba Phebie, karakter diri sendiri dan karakter pasangan perlu jadi pertimbangan. Huehehe. Well, mungkin dia bukan orang yang tepat untuk mba Ainun, semoga nanti ketemu yang lebih pas, lebih baik, dan nggak pakai LDR, mbaaaa 😍🧑

      Delete
  8. Mantan pejuang LDR hadiiiiir *angkat tangan tinggi*

    Andai ajaaa aku bisa dengar nasihat dari kenalannya Mba Eno waktu zaman LDR-an dulu, mungkin hubungan kami nggak banyak miskom dan ngambek-ngambekan karena salah menyampaikan maksud melalui text 🀣

    Pengalamanku kurang lebih sama kayak Mba Eno, apalagi waktu pacaran aku tipe cewek demanding. Chat harus dibalas secepatnya, kalo nggak mulai deh kumat mikirin yang bukan-bukan, padahal pasangan di seberang sana lagi sibuk kerja jadi nggak lihat hape 🀣

    Pengalaman paling stressful saat LDR itu plan the wedding, Mbaa. Aku sama suami waktu itu bolak-balik Bali-Jkt, tektokan sama vendor, belum lagi diskusi antar keluarga besar. Alamaaak, rasanya melelahkan banget. Entah berapa kali deh kami "bertengkar" karena ini. Sampai ada suatu saat kami kayak "break" beberapa hari untuk nggak komunikasi sama sekali saking riweuhnya 😭 Di situ aku down banget, Mba, huhuhu. Tapi justru dari situ kami jadi punya waktu tenang dan begitu kami sama-sama udah clear, komunikasi jadi lebih enak.

    Speaking of which, sebisa mungkin kalau lagi LDR menghindari pertengkaran. Bukannya mengabaikan masalah, yaa. Tapi kalau dirasa harus ngomongin hal penting, lebih baik langsung telfon aja supaya bisa saling mendengar tone suara masing-masing, or video call will be soo much better. Btw, iya yaa... kenapa dulu kami berdua nggak video call aja?? wkwkwk

    After all, sebuah hubungan (apalagi pernikahan) sebisa mungkin jangan terlalu lama berpisah. Tapi memang ada situasi tertentu yang memaksa kita harus LDR-an, nah di situ lah setiap pasangan harus saling sepakat untuk menjaga hubungan. Aku yakin, sih, setiap couple punya caranya masing-masing menjalani LDR. Yang penting kompak selalu, ya!

    Thank you Mba Eno for sharing your experience! Lumayan, aku bisa sekalian nostalgia dan curcol di sini πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaaaay, sesama pejuang LDR jaman baheula, tos mbaaa 🀣

      Hahahahaha, sama~lah kita, saya pun ada momen ngambek-ngambekan ugha, apalagi saat awal karena masih adaptasi dengan karakter si kesayangan πŸ˜† Mana kami komunikasi pakai bahasa Inggris bukan bahasa Ibu. Wk. KZL.

      By the way, masa-masa sebelum wedding memang paling buat stress, maybe karena itu ada istilah bridezilla πŸ˜‚ Yang tadinya jarang berantem mendadak jadi hobi debat, level sensitif pun meningkat tajam. Thankfully mba Jane bisa overcome the situation bersama pasangan dan survive menjalani masa itu dengan lancar 😍

      And agree sama mba Jane, better hindari pertengkaran karena akan susah berbaikannya. Apalagi paling enak tengkar hadap-hadapan jadi saat jauh tuh nggak nyaman πŸ™ˆ Wk. Thank you so much sudah sharing pengalaman dan berbagi saran untuk teman-teman yang mungkin sekarang sedang jadi pejuang LDR, mba πŸ˜†

      Delete
  9. Sempet LDR sebelum akhirnya menikah dan sekarang malah kemana-mana bareng mulu karena setempat kerja, wkwkwk...

    ga punya tips khusus LDR, cuma jalanin aja udah.
    klo ga cocok ywdlah mau gimana lagi, dulu keknya kita berdua mikirnya gitu. sering berantem tapi gampang baikan. hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiiik dong mba Pipit, jadi nggak perlu pusing karena berjarak 😍

      Agree, nggak banyak pilihan, kalau memang cinta dan ingin diperjuangkan, then mau nggak mau harus jalani hingga akhirnya bisa bersama tanpa berjauhan πŸ˜†

      Thanks for sharing, mba πŸ₯³

      Delete
  10. aku LDR udah 5 tahunan ini si soalnya aku pindah2 terus kayak bang toyib mbak wkwk

    yang penting saling ngerti aja si kapan harus komunikasi kapan memang harus jeda
    saling ngerti itu sebenernya kunci soalnya pas lDR banyak banget godaannya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMAYGAD, mas Ikrom kereeeen, pasangan mas Ikrom juga keren 😍

      Lima tahun bukan waktu yang sebentar soalnya. Keren deh mas Ikrom dan pasangan. Semoga tambah kompak meski berjarak, dan hubungannya solid yah. And yes, setuju, saling mengerti adalah salah satu kunci utama πŸ˜†πŸ€

      Thanks for sharing, mas πŸ₯³

      Delete
  11. Aku bukannya menentang LDR . Kalo bagi beberapa orang ada yg berhasil menjalin hubungan jarak jauh, good for them. Tapi rasanya itu ga berhasil buatku mba.

    Pernikahan pertamaku gagal Krn LDR. Padahl dr awal kami juga udh sama2 janji bakal komunikasi, bakal percaya, bakal setia dan janji2 lain. Tapi kenyataannya, lama2 si mantan malah jadi posesif gila dan makin kasar.

    Dia nelpon hampir setiap jam. Dan kalo sekaliiiiii aja aku ga angkat, dia berubah jadi marah2. Jangankan ga angkat, kalo sampe nih, aku angkatnya lebih dari 3 deringan, dia LGS nuduh, aku sedang dengan cowo lain. Pernah aku ga bisa jawab telp nya krn sedang ujian mba. Dan di kelas ga boleh bawa hp. Maraaah nya jangan tanya. Aku dituduh lagi mesra2an Ama mahasiswa lain. Dia tahu loh aku ujian, aku KSH tau malamnya bahwa kalo sdg ujian aku ga bisa bawa hp. Tetep aja kumat , nuduh aku seenaknya.

    Trus pernah aku ga bisa jawab telp pas sedang sidang skripsi. Pas selesai sidang, aku ngeliat puluhan miscall dan SMS. Isinya nyakitin banget, sampe ada kata2 menuduh perek. Aku nangis sih mba.

    Ujungnya, hubungan kami berakhir gara2 SMS nyasar dia, yg utk selingkuhannya, nyasar ke aku. Tapi tetep loh masih ngeles, dengan bilang itu salahku dia selingkuh. Krn dia kesepian, sementara aku tega aja ninggalin dia. Lagian dia yakin aku pasti ga setia juga, jadikan impas kalo dia selingkuh 🀣. Hastagaaah, aku malu kenapa bisa buta selama ini.

    Aku males debat kusir Ama cowo sinting begitu. LGS aja telp pengacara papa, minta tolong urusin perceraian kami. Aku bakal balik ke Indonesia pas urusan sidang skripsi selesai. Ga tau deh papa pake cara apa, tapi sidang cerai kami cepet selesainya.

    Sekarang ini walopun aku tahu ga semua cowo LDR bgitu, tapi ntah kenapa kata2 dia masih membekas bgt ttg efek LDR. Jadi aku ngerasa belum siap kalo hrs jauh Ama pasangan lagi. Kalo seandainya Raka dikirim ke kota/negara lain dlm JK waktu lama, aku LBH milih ikut.

    Oh Yaa, saran aja utk yg pasangannya posesif dan suka nuduh kita selingkuh. Harus hati2, jangan2 sbnrnya yg sedang selingkuh dia sendiri 🀣

    ReplyDelete
  12. Baca cerita mba Fanny manggut-manggut. Thanks for share mba. Sudah betul itu mba hempaskan saja.πŸ˜…

    Itu sgt susah perbaiki kecuali ybs sadar "ada yg nggak beres" dan berusaha membenarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya tanda2 kalo mantanku posesif berlebihan dan udah ngelakuin kekerasan verbal, kliatan sejak kami pacaran mba. Aku lagi jalan berdua misalnya, naik motor, trus dia bisa tuh nuduh kalo aku ngeliatin cowo2 di sepanjang jalan 🀣. Katanya kliatan dr spion. Jadi kalo jalan Ama dia aku wajib nunduk.

      Aku aja yg bodoh, kenapa malah menganggab itu bentuk cinta dia yg terlalu besar sampe ga kepengin aku ngeliat org lain. Padahal itu udh tanda ga beres banget dari diri dia . Nyesel aku baru sadar pas nikah 😩. Tapi ya sudahlah, kalo ga gitu, mungkin aku tetep bucin tanpa logika 🀣🀣

      Delete
    2. Aduh bacanya ikut gregetan, mbaaaa 🀣

      But at the same time mau bilang terima kasih untuk mba Fanny yang sudah mau berbagi cerita dan pengalaman, pastinya bisa jadi pelajaran untuk teman-teman lain yang baca komentar mba dan mungkin sedang mengalami hal yang sama πŸ˜†

      Delete
  13. Saya pejuang LDR tapi sama adik. huahahahaha
    Tiap kali habis ketemu, pas mau pisah lagi nangisnya udah macem apa tau.:))
    Dan berujung dikomen mama, "deket berantem, jauh nangis".:))

    Kalau dulu jaman ngekost bareng, aku kerja dia masih kuliah. Jaman-jaman masih pake yahoo messenger dia yg lebih sweet nanya-nanya mulu "ce tenggo gak?", "ce ngapain?" Aku yang galak. Eh sekarang aku yang digalakin #karma. Tiap chat panjang-panjang dibilang "berisik banget ih". huahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampuuun mba Wulan ikrib banget sama adiknya, tapi memang begitu sik yah kalau dengan sibling, apalagi ketika usia tambah dewasa. Biasa yang kecilnya ribut terus saja pun ketika sudah besarnya jadi lengket nggak mau lepas 🀣 Wk.

      Akur terus mba Wulan dengan adiknyaaah 😍

      Delete
  14. Luar biasa pengalaman mbak fanny. Saya bacanya juga manggut2 πŸ˜„
    Duh masalah balas membalas pesan itu banyak dialami orang2 mbak.
    Yang gak ldr aja sering kok berantem gegara balas pesannya lama. Eh tapi biasanya yg begini masih abege sih 🀣
    Noted mbak, jadi gitu ya ternyata, daripada menghambur2 kan energi untuk kasih pertanyaan, mending kasih pernyataan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Sekar, pengalaman yang penuh pembelajaran 😍

      Nah betul, nanti bertambah umur biasanya justru malas text banyak-banyak 🀣 Memang manusia itu berproses, jadi nikmati prosesnya sambil belajar πŸ™ˆ Wk.

      Thank you mba Sekar sudah baca πŸ₯³

      Delete
  15. Mantan pejuang LDR terpanggil nih πŸ˜‚
    Sama, dulu aku sama Ara pun intens berkomunikasi via chat tiap hari. Ngobrolin apa pun, dari apa yang sudah/sedang/mau dilakukan sampai topik-topik random seperti pandangan, prinsip hidup, perasaan, dsb.

    Bedanya, di antara aku sama Ara justru Ara yang lebih nggak kuat LDR-an, mbak. Mungkin karena aku lebih sibuk (dan memang orangnya gak suka berdiam diri), jadi perhatianku sering teralihkan dari rindu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cwit cwittt πŸ˜† Thankfully perjuangan selama LDR berbuah manis yah, mas Nugie. Dan komunikasi itu penting banget sih, untuk jaga hubungan 😍

      By the way, biasanya kalau sibuk memang jadi nggak berasa LDR-nya, apalagi kegiatan bejibun, hahahaha. Tau-tau sudah malam, terus bisa phone call πŸ˜‚ Yang nggak enak bila salah satu sedang selow, terus jadi bagian menunggu kabar πŸ€ͺ

      Delete